
KARIMUN (Komunitas)
Para Pejabat di Karimun banyak yang pindah mendadak seiring di gesanya pembangunan di Bumi Karimun Berazam. Ada-ada saja Komunitas, apa pasal? Pindah yang kami maksudkan bukanlah pindah Jabatan melainkan pindah rumah. Yang kate kami orang awam ne “ Ade udang di balek bakwan” biaselah. Hasil investigasi Koran ini di lapangan beberapa waktu lalu, proyek pembangunan jalan pesisir dari Wisma Gloria menuju Tanjung Sebatak sudah mulai di gesa. Seperti tampak pada gambar demikianlah aktivitas di sekitar proyek tepatnya di belakang Mesjid Kelurahan Teluk Air.
Berjalan di sekitar pantai memang sangat menakjubkan, apalagi air laut dalam keadaan pasang saat itu. Melaju perlahan dan sepertinya tak ada masalah menelusuri jalan bekas timbunan Proyek Multi Yers tersebut meski tadi malam hujan turun dengan lebat. Ridwan, bukan nama sebenarnya. Lelaki paroh baya ini begitu semangatnya menebas lahan miliknya yang di tumbuhi semak belukar di temani Isterinya. Setelah bersalaman dan berkenalan dari mana, apa maksud dan tujuan, Ridwan pun mulai berkomentar “Beginilah Mas kerjaan orang tua” ungkapnya memulai pembicaraan dengan Koran ini. Dulu seingat saya hanya saya sendiri yang punya tanah di sini. Karna saya pikir tak ada gunanya juga kalau di kelola dan di usahakan, karna tanahnya yah seperti ini, papar Ridwan seraya menunjuk tanah yang di maksud. “ orang-orang kan cari yang dekat di pinggir kota biar lebih gampang bikin usaha. Tapi belakangan saya sangat heran kok banyak orang berpakayan rapi lihat-lihat tanah disini, ujar Ridwan. Mereka yang datang (Pejabat-red) saat itu tanah ini belum di timbun seperti sekarang. Mungkin masih dalam perencanaan, imbuhnya. Ridwan juga menegaskan bahwa kedatangan para pejabat tersebut sekitar dua tahun yang lalu.
Disinggung apa maksud dan tujuan pejabat tersebut menelusuri lahan pesisir, Ridwan mengatakan tidak tahu persis. Hanya saja belakangan Ridwan mengetahui bahwa tanah di pinggiran pantai tersebut sudah banyak dikuasai oleh Pejabat. “ dari sini hingga ke ujung sana , katanya tanah milik orang pejabat Pemda “ ungkap Ridwan polos diamini oleh isterinya. Yang jadi pertanyaan!! Benarkah informasi yang di ungkapkan oleh seorang Ridwan?
Banyak berjalan tentu banyak pula yang di lihat. Demikian pepatah pegangan Koran ini menelusuri informasi dari seorang Ridwan. Pembuktian memang tidak segampang membalikkan telapak tangan, perlu kecerdasan, kesabaran dan fisik yang tangguh untuk mengungkap kasus dugaan proyek pembangunan jalan pesisir “sarat kepentingan politis” seperti judul berita di atas. Sementara fakta sebagai pendukung informasi belum konkrit.
Sejenak kita kembali ke alinea berita di atas, Banyak berjalan banyak di lihat. Koran Komunitas bak Hunter Dollar kembali berpacu dengan waktu, menyisiri jalan pesisir sesekali terkena air oleh deburan ombak pasang yang menerjang bebatuan tembok Proyek. Bagaimana nasib masyarakat Karimun kedepan jika proyek pembangunan ini benar sarat dengan kepentingan politis. Mengapa tidak? Proyek pembangunan jalan Poros yang menghabiskan Anggaran Milyaran rupiah adalah saksi bisu ketidakpastian birokrasi di Karimun. Proyek ini juga di sinyalir bernuansa sarat kepentingan hingga sampai sekarang belum ada investor yang melirik lokasi ini karena harga tanah cukup tinggi dan pada umumnya sebahagian besar tanah di sini adalah milik Pejabat, belum lagi PLN yang hingga detik ini masih dalam krisis.
Dalam perjalanannya hingga tiba di penghujung jalan, awak Koran ini terperangkap di jalan buntu. Di sini hanya ada gubuk tua yang sedikit agak menyeramkan. Setelah masuk ke Gubuk tua itu, karna pada perinsipnya Koran Komunitas tidak menyediakan halaman untuk berita penampakan seperti di Majalah Misteri ataupun Liberti.
Wow spektakuler!!!! Koran Komunitas yang sudah mulai kemasuk-masukan kealam gaib dengan cekatan mengeluarkan Kamera dan memotret penampakan orang tua berbaju putih. Preeeeet. Penampakan orang tua telah tersimpan di dalam memori kamera. Tiba-tiba. “Wallan!!! apa lu poto-poto ua, nene koci” sergah seorang Apek. Astaga!!! Ternyata bukan dia? Gumamku dalam hati. “ Susa cakapla Apek a, ua pikir lu hantu laut beneran singgah makan dekat gubuk, maka ua kasi jepret o” ujar menyambangi. percakapan pun tak terhindarkan antara orang tua keturunan tionghua dengan Koran Komunitas.
Singkatnya setelah panjang lebar bercerita ini itu, ternyata sang apek tahu juga selak beluk pembangunan di sekitar. Sang apek tua itupun mengajak Koran Komunitas keluar dari gubuk menunjukkan pundi-pundi informasi bahwa tanah di sekitar jalan pesisir telah di kuasai oleh beberapa Pejabat teras di Karimun. “ Itu adalah rumah Kepala Dinas”, ujar Apek seraya menunjukkan sebuah gedung bercat putih di kejauhan sana . Jauh sekali hingga zoom Kamera digital Koran Komunitas tak mampu mengabadikan target yang di maksud.
Tanpa banyak Komentar, Koran ini langsung tancap gas mencoba mencari jalan pintas agar dapat menuju bangunan rumah yang dimaksud Apek tadi. Kelimpungan, yah begitulah gambaran mencari jalan menuju target tersebut. Mengapa tidak, Koran ini terpaksa memutar balik haluan meninggalkan Gubuk tua menuju Jalan raya mendekati Kelurahan Lubuk semut melewati beberapa tikungan, gang perkampungan, kebun kelapa, hingga nyaris tabrakan dengan pemulung yang mengendarai becak tepat di perempatan Kolam Berenang Lubuk Semut. “Sorry Boss buru-buru” lalu melaju lagi.
menilik 1Target pun sudah kelihatan. Bangunan rumah mewah bertingkat yang masih dalam pengerjaan di lengkapi dengan pos penjagaan dan sedikit taman, begitulah bentuk rumah ini. Dari beberapa pekerja di tempat itu mengaku tidak tahu siapa pemilik rumah. “ kita hanya pekerja saja mas, yang punya kita tidak tahu, katanya. Dapat di bayangkan anggaran untuk rumah ini mencapai milyaran rupiah. Dari tanah timbunan saja diduga mencapai ribuan truk. Mulai dari penimbunan jalan menuju lahan bangunan, karena pada dasarnya tanah ini adalah rawa dan di tumbuhi oleh tumbuhan bakau.
Lantas siapa gerangan empunya rumah mewah baru paling pojok sekali di pingir pantai tersebut? Memang mengundang sejuta tanya. Mengapa sang empunya rumah terlalu berani mendirikan rumah semewah itu di pinggir pantai. Karna menurut kami orang awam ne, kok tiba-tiba saja ada rumah mewah disana, ngape ye? Kate tentangge sebelah. Didaerah ini juga lanjutnya, tanah jadi lahan rebutan atau paling santer di sebut dengan tanah berlian yang jadi incaran orang-orang berduit yang pada umumnya berdasi.
Informasi dari penduduk sekitar menyebutkan bahwa bangunan rumah mewah tersebut milik Kepala Dinas Pertambangan dan Energi Kabupaten Karimun, Alwi Hasan “ Duit dari mane ye? “ mau tau aja!!! Mereka kan pejabat, banyak duit dah itu Kepala Dinas Pertambangan lagi, ketua dane CD lagi,” ketus Wak Ramlan (bukan nama sebenarnya) menjawab pertanyaan isterinya. Demikian penelusuran Koran Komunitas. Menilik geliat pembangunan di Kabupaten Karimun. Semoga data-data atau temuan di lapangan hanya kebetulan saja tanpa adanya kaitan dengan Proyek pembangunan agar geliat pembangunan tersebut tepat sasaran dan bermanfaat bagi masyarakat luas. Karena kapan dan dimana saja kebenaran akan menang dan penjara yang gelap dan sempit siap menanti para penjahat■ Romy Purba/Jun M/NL
http://korankomunitas.wordpress.com
Comments
Post a Comment