Upaya Nerazzuri Memberi Impresi Pada Erick Tohir

]
Ditulis oleh: Aditya Nugroho 

15 Oktober 2013 lalu adalah tanggal bersejarah bagi kubu Nerazzuri. Erick Thohir bersama perusahaannya, International Sport Capital (ISC) resmi membeli 70% saham Inter Milan senilai 250 juta euro dari Massimo Moratti. Dengan pembelian ini, Moratti yang kini tinggal memiliki 30% saham memang masih menduduki posisi Presiden klub, namun rasanya hanya menunggu waktu saja sebelum Thohir membeli sisa 30% saham milik Moratti untuk kemudian menjadi pemegang seluruh saham.

Berbagai reaksi kemudian melanda publik sepak bola Italia. Inter menjadi tim kedua setelah AS Roma yang sahamnya dikuasai oleh pemilik asing. Selama ini, klub-klub Italia memang identik sebagai klub milik keluarga. Sebelum dibeli pengusaha asal AS, Thomas Di Benedetto dan James Palotta, Roma telah lama menjadi milik keluarga Sensi, sementara keluarga Moratti sejak tahun 60an telah identik dengan Inter.

Tradisi semacam ini juga terjadi di klub-klub besar lainnya seperti Juventus dan Milan. Baik keluarga Agnelli di Juventus maupun Berlusconi di Milan telah lama menjadi bagian dari sepak bola Italia dengan kejayaannya masing-masing.

Namun krisis keuangan yang melanda Italia juga berimbas pada klub-klub sepak bolanya. Kekayaan para pemilik klub yang terus menyusut menjadikan klub-klub Italia sulit mempertahankan pemain terbaik mereka sekaligus tidak mampu mendatangkan pemain-pemain mahal. Perilaku mereka yang begitu boros dalam mendatangkan pemain pada tahun 90-an memang menjadikan Serie A sebagai kompetisi paling glamor, seperti Liga Inggris pada era sekarang. Namun tindakan tersebut justru menandai awal kemunduran karena mereka tidak mampu memutar uang sebanyak mereka membeli dan menggaji pemain. Prestasi klub-klub Serie A di Eropa juga akhirnya turut meredup.

Dengan utang sebesar lebih dari 300 juta euro dan laporan keuangan yang terus menyajikan posisi rugi dalam beberapa tahun terakhir, Inter memang kesulitan untuk menjadikan tim mereka kompetitif. Setelah Jose Mourinho membawa tim ini memenangi treble winners pada 2010 lalu, prestasi mereka seolah menguap. Posisi kesembilan musim lalu adalah kenyataan yang harus dihadapi.

Ada optimisme pada kedatangan Thohir. Selain untuk melunasi utang yang diwariskan Moratti, kekuatan uang pengusaha Indonesia ini diharap mampu membentuk skuat yang lebih kompetitif. Thohir sendiri berusaha meredam euforia dengan mengatakan bahwa ia tidak akan menghambur-hamburkan uang terlalu banyak di bursa transfer, melainkan ingin berkonsentrasi pada akademi pemain muda.

Rangkaian cerita ini memang mewarnai laga Inter menghadapi tuan rumah Torino akhir pekan nanti, Minggu (20/10) atau Senin (21/10) dinihari WIB. Ini adalah laga perdana Inter pasca pembelian tim oleh Thohir. Inter memang membutuhkan pembangkit semangat terlebih mereka baru saja dihajar Roma 0-3 di kandang sendiri. Meski masih menduduki posisi keempat, namun kini mereka telah tertinggal tujuh angka dari sang pemuncak klasemen. Kedatangan Thohir tentu saja menjadi motivasi baru bagi tim ini karena mereka pasti ingin membuktikan diri. 

Torino bukanlah lawan yang mudah dikalahkan di kandang mereka. Juventus hanya mampu menang tipis, sementara Milan hanya mampu bermain imbang. Alotnya perlawanan dan determinasi tinggi mereka kerap menyulitkan lawan yang di atas kertas memiliki talenta lebih baik. Dengan taktik 4-4-2 yang kerap berubah menjadi 4-2-3-1 atau 4-3-3, Torino mengandalkan serangan dari sayap lewat Danilo D’Ambrosio dan Matteo Darmian. Sejauh ini, kedua pemain mampu tampil solid. 

Satu pemain yang patut diwaspadai dari Torino adalah Alessio Cerci. Penyerang tim nasional Italia ini mampu bermain di posisi manapun di lini serang. Ketajamannya bahkan menempatkan pemain kidal ini di posisi teratas daftar pencetak gol terbanyak dengan koleksi enam gol. Namun sayangnya, ketergantungan Torino pada Cerci teramat besar. Enam dari 10 total gol yang telah dicetak berasal dari Cerci. Jika barisan belakang Inter mampu mematikan pemain ini seperti yang berhasil dilakukan Juventus beberapa waktu lalu, maka Torino praktis sulit memenangi laga.

Salah satu kesulitan Inter kala menghadapi Roma pekan lalu adalah membongkar pertahanan lawan. Menghadapi Torino, Inter memang dipastikan akan menguasai jalannya laga. Trio gelandang Esteban Cambiasso, Saphir Taider dan Fredy Guarin memang menjadi andalan dalam membangun serangan. Namun jika Torino memasang pertahanan berlapis dengan menumpuk pemain di daerah sendiri, para gelandang Inter perlu mencoba alternatif lain seperti tembakan jarak jauh. Akan sangat membantu jika mereka mampu membuat gol cepat, karena dengan demikian Torino akan keluar menyerang dan melonggarkan pertahanan.

Sementara Torino berupaya bertahan di papan tengah, Inter memiliki motivasi lebih untuk memberi impresi positif pada pemilik baru sekaligus menjaga jarak dengan tim tiga besar di atas mereka. Apakah mereka mampu? Kita nantikan saja.

Comments